Punkajian Bekasi Belajar Baca Al-Quran

Salah satu agenda rutin Punkajian Bekasi adalah kajian pekanan yang diadakan secara rutin dan agenda awalnya adalah membaca Al-Qur’an, karena Al-Qur’an adalah nasihat langsung dari ALLOH SWT kepada ummat Islam.

Di awal Punkajian Bekasi terbentuk, ada beberapa teman-teman Punkajian yang hadir dalam kajian pekanan belum bisa membaca Al-Qur’an, namun hal ini tidak menjadi alasan untuk tidak ikut kajian pekanan, dan tetap harus mendapatkan haknya melantunkan nasihat langsung dari ALLOH SWT. Caranya adalah dengan mengganti bacaan Al-Qur’an dengan melantunkan hafalan Al-Qur’an yang sudah dihafal dan biasa dibaca ketika sholat.

Alhamdulillah dengan seperti ini, bisa menjaga semangat teman-teman  menghadiri majlis ilmu, selain itu dengan selalu berinteraksi dengan Al-Qur’an paling tidak sepekan sekali semangat teman-teman untuk belajar Al-Qur’an tumbuh menguat.

Al-hasil di tahun ke-4 Punkajian Bekasi berdiri, kini seluruh teman-teman Punkajian Bekasi sudah bisa membaca Al-Qur’an bahkan saat ini sudah dalam tahap menghafal juz 30, dimulai dengan surat An-Naba.

Lalu bagaimana cara Punkajian Bekasi berlajar baca Al-Qur’an ?

Kalo dipikir-pikir, pertemuan ngaji pekanan durasinya paling lama 2 jam, sehingga transformasi teman-teman Punkajian Bekasi dari yang tidak bisa membaca Al-Qur’an dan kini malah sudah berusaha menjadi penghafal Al-Qur’an hampir dikatakan mustahil, karena dalam rangkaian agenda kajian pekanan, membaca Al-Qur’an hanya salah satu agenda dari beberapa agenda lain.

Juki Casual Dress

Kiki a.k.a Juki CDR ex personil band punk asal Bekasi Casual Dress “Kemaren saya belajarnya download aplikasi Iqro di Android, trus sambil dagang tahu di pasar, sambil nunggu pembeli, saya pencet-pencet dah tuh Android, nanti aplikasinya nyontohin bunyi huruf dan potongan ayat Al-Qur’an, tinggal ikutin deh“. Bang Juki di pekan kemarin sudah berhasil menghafal surat An-Naba ayat 1-16 dari yang awalnya tidak bisa membaca Al-Qur’an.

Iwan Daki yang setelah hijrah dikenal dengan panggilan Iwan Dai, awalnya setiap kali datang pengajian pekanan ga mau nyoba baca Al-Qur’an, tapi di pertemuan terakhir ia sudah setoran hafalan Surat Ar-Rahman ayat 1-6. Berbeda dengan Juki, Bang Iwan belajar baca Al-Qur’an dengan bimbingan ketua Punkajian Bekasi kang Miki. Setiap kali nongkrong di Kedai Hijrah, Bang Iwan diminta belajar baca dengan menggunakan metode Iqro sama kang Miki, dan tentu dengan motivasi pahala dan keutamaan membaca Al-Qur’an.

Juki dan Iwan adalah contoh bagaimana proses belajar membaca Al-Qur’an itu tidak ada kata terlambat, dan metode belajarnya pun beragam, bisa dengan berbagai cara, semua kembali ke tekat dan niat untuk bisa membaca Al-Qur’an dan tentu penyemangat dari teman-teman disekeliling yang selalu berinteraksi di grup whatsapp di luar agenda pengajian pekanan.

Adapun kajian pekanan hanya sebagai sarana untuk memberikan motivasi dan memelihara semangat belajar, namun untuk proses belajar tetap harus dengan motivasi diri pribadi, mencari jalan dan mengalokasikan waktu untuk belajar Al-Qur’an.

Mengutip Muzzamil Hasbalah dalam sebuah kajian di Bekasi “Menjadi penghafal Al-Qur’an itu tak pandang usia, tak pandang profesi, berapapun usia kita, dan apapun pekerjaan kita, semua tergantung seberapa besar motovasi kita untuk menjadi penghafal Al-Qur’an, dan seberasa besar rasa kangen kita untuk terus berinteraksi dengan Al-Qur’an“. (red)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *