Antara Anarkisme, Islam dan Budaya Membaca

Anarkisme yang sering saya temui merupakan suatu faham anti hirarki yang dianut suatu  kalangan, khususnya pemuda di scene musik underground. Dalam pergerakannya selalu mengedepankan aksi damai, dan diskusi -diskusi umum, ia sering menjadi inspirasi bagi gerakan-gerakan sosial lainya. Namun, Anarkisme di negri ini pada umumnya sering diartikan sebagai aksi brutal yang selalu diakhiri dengan chaos. Entah ini merupakan bentuk pengaburan makna yang disengaja atau suatu upaya membendung faham anarkisme yang anti hirarki?

Memahami lebih jauh tentang apa itu Anarkisme, Saudara kami di Surabaya, Komunitas Punk Muslim Surabaya sudah pernah membahasnya. Saya sepakat akan penjelasan mereka dalam membandingkan Anarkisme dengan moralitas negara Islam.

Salah satu contoh komunitas yang berpaham Anarki di sekitar kami saat ini, misalnya Perpustakaan Jalanan. Sebagai pembelajaran bagi kami, ada sisi positif yang dapat diambil dari gerakan ini. Mereka memberikan pemahaman akan pentingnya budaya membaca, tujuannya agar tersampaikan ilmu secara luas dan gratis. Ketika ilmu terpenjara oleh ruang-ruang kelas dan jumlah rupiah sehingga menciptakan mindset yang keliru, bahwa sekolah bertujuan untuk mengejar materi semata, Bisa kita amati bersama, sekolah hanya dijadikan sebagai pencetak mesin, mencetak manusia yang mampu menjadi profesionalis dan bekerja kepada kaum-kaum pemodal.

Tak bisa dipungkiri, saya pun terjebak dalam zona itu. Zona dimana kenyamanan menerima gaji setiap bulannya, dan budaya konsumerisme diantara para karyawan terhadap teknologi serta gaya hidup. Maka, masyarakat yang apatis terbentuk dengan sendirinya sesuai kemajuan zaman, tanpa memikirkan kaum marjinal yang tertindas secara ekonomi dan pemikiran di sekitarnya. Upaya bersosial hanya sebatas memberikan sedekah berupa uang dan makanan, iya itu memang baik, namun alangkah baiknya bila diimbangi dengan edukasi masyarakat, berbagi ilmu kehidupan agar masyarakat bisa memiliki kematangan berfikir. Interaksi sosial secara langsung menjadi situasi yang langka di beberapa wilayah.

Beda dengan perpustakaan jalanan, walau belum besar dan masih bergerak di akar-akar masyarakat bawah, saya amati komunitas ini mampu membuktikan kebersamaan dalam berbagi ilmu secara gratis, mampu menghadirkan suasana belajar tanpa tekanan, mampu hadirkan ilmu tanpa sekat rupiah, dapat menjalin interaksi sosial dengan baik. Dengan semangat kolektif, buku-buku yang hanya menjadi bangkai rak-rak buku dirumah dapat dimanfaatkan kembali fungsinya sebagai buku bacaan, berbagi dengan banyak orang, berbagi kepada semua kalangan. Dalam Islam ini bisa bernilai berkah, karena ilmu yang dimiliki tidak dinikmati sendiri, tapi dibagi dan disebarluaskan kepada yang lain.

Kegiatan positif ini pun tidak sepenuhnya dipahami oleh orang yang sering mengaku Anarkis, semangat dan bangga mengibarkan simbol-simbol Anarki sebagai atribut dressan-nya, pada kenyataanya masih menjadi beban moral di keluarganya dan meresahkan masyarakat. Hidup dijalanan sampai tua tanpa keahlian lebih yang mampu menunjang hidupnya. Ini hanyalah oknum, padahal Anarkisme memberikan pemahaman agar setiap individu itu cerdas secara keilmuan dan pemikiranya. Dengan kemandiriannya, mampu hidup tanpa menjadi beban keluarganya. Untuk itulah, adanya gerakan perpustakaan jalanan ini bisa diharapkan mampu membuka cakrawala berfikir bagi kalangannya dan umum. Karena selain membaca buku gratis ada diskusi-diskusi umum serta kegiatan lainya sehingga aktivitas ini penuh warna dan tidak monoton, karena ada interaksi sosial di dalamnya yang dilandasi semangat kebersamaan.

Melihat keadaan saat ini (jelang pilpres), warna perpolitikan tanah air semakin bergejolak dan memanas. Karena jelas, kebijakan pemerintah yang makin membuat sengsara rakyat kelas bawah, serta janji-janji politik saat kampanye sebelum terpilih dulu belum ada yang terealisasikan. Rakyat semakin kesal. Merasa dibohongi dan dicurangi. Dari kubu pemerintah sendiri berusaha meyakinkan rakyat melaui media televisi, dengan segudang iklan bahwa pemerintah adalah sosok penolong negri. Rakyat di doktrin agar bisa mendukung pemerintah. Rakyat yang tidak paham kondisi perpolitikan akan semakin percaya terhadap yang diberitakan televisi. Membenarkan segalanya. Menelan mentah-mentah tanpa harus kritisi lagi. Padahal, setiap stasiun televisi kita tau bersama, hanya berorientasi materi, bagaimana tayangan televisinya bisa naik rating, tak peduli yang disajikan itu bermutu atau tidak, mendidik atau tidak. Bisa saja stasiun televisi tersebut dikendalikan sesuai pesananan. Tayangan dibuat semenarik mungkin agar pemirsa terpukau.

Karena hal di atas, para Anarkis umumnya memboikot televisi dengan tidak menonton televisi, bahkan sampai tidak ada minat untuk memiliki televisi “Bunuh TV” dan cabut nyawa televisi itu dan kembali ke buku.

Persenjatai diri dengan membaca, dengan membaca wawasan akan semakin bertambah. Jiwa -jiwa revolusioner akan hadir diantara para kutu buku.  Entah apa yang dibaca, namun setidaknya buku lebih bermakna tanpa harus dijejali badut-badut rupiah di televisi. Bagaimana sang revolusioner paling bepengaruh di dunia sepanjang masa mampu mengubah dunia dari zaman kebodohan menjadi zaman penuh ilmu pengetahuan, mampu mengubah bangsa Arab saat itu yang tak secuil pun dilirik negri adidaya Romawi dan Persia, namun mampu menjadi negri yang beradab dan penuh kejayaan hingga keberkahannya menyebar seluruh alam, siapa ia? Siapa lagi kalau bukan Baginda Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam diawali dengan “baca“, wahyu pertama turun kepadanya adalah perintah baca, sampai berulang-ulang. Walau makna baca itu luas , namun dengan membaca kita semakin memahami suatu ilmu, bertambah wawasan, sehingga juga mampu mengubah jalan pemikiran.

Dalam ajaran Islam sangat menjujung tinggi ilmu pengetahuan, tradisi ilmiah tersebut harus kita akui mendapat apresiasi yang sangat tinggi sebagaimana perhatian Islam kepada ilmu pengetahuan itu sendiri. Ditegaskan oleh Allah Subhanahu Wataala dalam Al Qur’an Surat Al Mujadalah ayat 11, bahwa Allah akan meninggikan derajat orang-orang yang berilmu pengetahuan, beberapa derajat ketinggian atau kemuliaan dibanding yang lainnya.

Budaya membaca pun telah di praktikan oleh ulama terdahulu dan generasi salaf, seperti apa yang disampaikan oleh murid Syaikhul Islam Ibnu Taimiah ini.

Ibnu Qayyim al Jauziyyah berkata:

Kerinduan para penuntut ilmu terhadap ilmu itu lebih besar daripada kerinduan seseorang terhadap kekasihnya. Kebanyakan mereka tidak terpesona dengan keelokan fisik manusia.”

Kemudian dari Ibnul Qayyim al Jauziyyah lagi

Sebaiknya engkau mempunyai tempat khusus di rumahmu untuk menyendiri. Disana engkau bisa membaca bukumu dan menikmati indahnya petualangan pikiranmu

Ketika Imam Ahmad bin Hanbal ditanya, “Sampai kapan Anda mencari ilmu ?”  Beliau menjawab, “Sejak bisa menulis sampai masuk ke liang kubur.”

dan generasi sahabat Rasulullah pun menyampaikan

Dari Abu Darda’ radhiyallaahu ‘anhu, ia berkata, Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَإِنَّ الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ الْأَنْبِيَاءِ وَإِنَّ الْأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوا دِينَارًا وَلَا دِرْهَمًا وَرَّثُوا الْعِلْمَ فَمَنْ أَخَذَهُ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ

Para ulama adalah pewaris para nabi, dan para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham, mereka hanyalah mewariskan ilmu. Barangsiapa mengambilnya maka ia telah mengambil bagian yang banyak.” (Hadits shahih: Diriwayatkan oleh Ahmad (V/196), Abu Dawud (no. 3641), at-Tirmidzi (no. 2682), Ibnu Majah (no. 223), dan Ibnu Hibban (no. 80 al-Mawaarid), lafazh ini milik Ahmad, dari Shahabat Abu Darda’ radhiyallaahu ‘anhu.)

Dan banyak lagi para pendahulu kita mengingatkan akan pentingnya menuntut ilmu dan membaca.

Pepatah Arab mengatakan, “Ilmu Datang setelah Membaca“.

Nah, bagaimana kita mampu memahami Ilmu bila kita sendiri malas membaca kitab-kita ulama dan buku-buku bermanfaat lainya.

Sebelum revolusi industri terjadi yang memicu kekacauan dunia dan saat itu kekhalifaan Islam mulai melemah di semua lini, jauh kebelakang, bagaimana Eropa (negara Barat) bisa maju saat ini dari segi tekhnologinya, itu ya berkat peran keilmuan Islam miliki saat itu, dimana orang-orang Eropa bahkan non Eropa dari penjuru dunia berbondong-bondong belajar di universitas Islam secara gratis. Dimasa kejayaan Islam, segudang ilmu Islam miliki di semua bidang, banyak perpustakaan yang khalifah Islam dirikan demi menjaga ilmu itu tetap hidup dikehidupan, salah satu kota Islam yang paling fenomenal adalah  Cordoba, di Spanyol. Dahulu, inilah kota incaran bagi para penuntut ilmu kunjungi. Disinilah, Islam memberikan kontribusinya kepada dunia dari segi ilmu politik, sosial, ekonomi, maupun budaya.

Dalam kejayaan Islam saat itu, banyak ilmuwan Islam bermunculan dan menjadi rujukan ilmu bagi ilmuan diseluruh dunia.

Inilah pentingnya membaca, wawasan kita akan semakin bertambah. Boleh jadi, kita sebagai bangsa yang besar memiliki sumber daya alam melimpah ruah tetap tidak bisa menghadirkan keberkahan bagi masyrakatnya karena pengelolaannya dikusai asing. Kita tidak mampu memproduksi dan mengelola, hanya menjadi masyarakat konsumtif, terus dijejali nikmatnya teknologi impor serba instan serta  media elektronik seperti televisi yang menyajikan tayangan pembodohan, sehingga disitu hilanglah keberkahan dalam menuntut ilmu, salah satu dari upaya memuntut ilmu adalah membaca buku/kitab, berkat menguatknya budaya hidup instan, kini manusia menjadi malas untuk berfikir lebih keras, malas berlelah lelah dalam berupaya, efeknya pun meluas, ketika  mengalami sedikit ujian hidup langsung down, baper, galau, mudah sekali putus asa dan sering menyalahkan orang lain, menyalahkan kondisi, ya ini akibat minimnya ilmu dalam diri, mudah putus asa akibat solusi yang tak kunjung tiba,  padahal para ulama mengabarkan sabarlah dalam menuntut ilmu.

Mari nikmati proses menuntut ilmu, pendam rasa serba instan itu, karena semua yang instan itu akan lebih cepat musnah dibanding ilmu yang dipelajari dengan proses panjang dan bertahap.

Pentingnya buku, dan pentingnya membaca adalah pesan yang sangat ditekankan dalam Islam. Bahkan Al-Qurán yang agung pun disebut dengan nama Kitab. Perintah membaca ada dalam wahyu pertama : ‘Iqro bismi rabbika’ dan walaupun ditujukan lewat Nabi yang tidak pandai membaca, ini menunjukkan pentingnya bacaan” kata Bapak Anies Baswedan saat menjabat sebagai Medikbud.

Baca…Baca ..Baca…

Baca buku… Cintai buku…

Kami di Komunitas Punkajian Bekasi selain dianjurkan rutin menghadiri majelis ilmu/kajian ilmu, diluar itu kami tetap berupaya untuk menghadirkan suasana nikmatnya membaca, walau dikalangan kami masih  banyak yang malas membaca, tapi kami tetap terus berupaya agar teman-teman disini cinta terhadap buku bacaan. Di tempat kami biasa kumpul, Kedai Hijrah, ada perpustakaan mini, inisiator nya adalah pemilik Jus Amis Tiis sekaligus pendiri Kedai Hijrah, ia seorang mantan rocker yang menjadi sholeh dan rajin membaca buku, walau tidak banyak buku yang dipajang, tapi buku-bukunya sangat berkualitas,  bermanfaat bagi kehidupan kita sehari-hari. Siapa saja yang berkunjung di Kedai Hijrah bisa membaca dengan gratis.

Perpustakaan di Kedai Hijrah

Sebagai muslim harusnya lebih semangat dalam membaca, dan juga harusnya lebih mengerti kondisi dunia saat ini yang semakin rusak, tau upaya apa yang akan  dilakukan sebagai muslim, tidak terkesan “yah sudah begini kondisinya mau gimana lagi” bukanlah seorang muslim yang mudah pasrah begitu tanpa ada upaya bangkit. Hilangnya jiwa-jiwa revolusioner yang membuat umat muslim banyak menjadi korban perkembangan zaman. Ini merupakan tugas  bersama, walau tidak besar, setidaknya memiliki harapan besar agar kami disini, dikomunitas kecil dipinggiran kota Bekasi ini bisa memberikan perhatian lebih dalam mencintai ilmu dan budaya membaca.

Angga CDR

1 thought on “Antara Anarkisme, Islam dan Budaya Membaca”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *