Berhenti Merokok – Pasti Bisa

Saya tetap meyakini hukum sebab akibat tetap berlaku dalam kehidupan. Entah itu yang membuatnya sehat, sakit, pintar ataupun bodoh. Bisa sehat karena berusaha menjaga pola hidup dengan baik dan benar. Bisa sakit karena pola hidup yang sembrono dan melampaui batas. Karena belajar bisa pintar, serta bisa bodoh karena malas. Namun tetap yang menentukan hasil akhirnya adalah Allah. Kita sebagai hamba yang beriman wajib yakin akan ketentuan Allah itu. Walaupun sudah berusaha sebaik mungkin untuk sehat, takdirnya Allah kasih sakit berat.

Ada rencana Allah dibalik  masalah itu, bisa ada pelajaran berharga yg bisa kita petik. Lalu, buat apa kita susah payah menjaga itu semua kalo memang pada akhirnya tidak sesuai harapan. Kita kembali lagi keatas, karena disitu ada rencana Allah yang kita sendiri tidak mengetahuinya. Itulah yang dinamakan takdir.

Melihat gaya hidup muda mudi tanah air, bisa kita lihat mayoritas adalah perokok aktif. Efek dari merokok itu seperti ISPA, Kanker paru-paru dan penyakit lainya  semakin bertambah penderitanya. Dan tidak itu saja, perokok pasif pun terkena sialnya, khususnya anak-anak bayi dan balita yang sudah mulai terpapar asap rokok oleh bapaknya sendiri. Dan sampai pada tahap kematian. Menurut penelitian, potensi penyakit perokok pasif bisa 3 kali lebih besar dibanding perokok aktif. Bagaimana bisa memikirkan negara ini bila generasinya penyakitan, kaum tuanya egois, padahal kewajiban kita untuk bisa menjaga penerus bangsa ini. Menyedihkan.

Berbagai kampanye aktivis sosial dilakukan dari iklan layanan sosial di media sosial, televisi sampai melakukan edukasi kepada masyarakat lewat selebaran dan spanduk. Bahkan, perusahaan rokok pun oleh pemerintah diwajibkan memasang gambar penyakit yang disebabkan merokok dan himbauan tertulis efek dari merokok. Tapi tetap saja, merokok terus merasuk kedalam kebiasaan sehari hari masyarakat Indonesia dan membudaya.

Sebenarnya, bila pemerintah serius menangani masalah ini tutup saja pabrik rokok tersebut, namun alasannya selalu merasa dilema akan kebutuhan pekerjaan masyarakat, akan kemana nantinya tenaga kerjanya bila benar pabrik rokok dilarang di negri ini. Nah, ini merupakan PR bersama untuk tetap mengedukasi masyarakat, minimal dilingkungan terkecil kita, yaitu keluarga kita. Dijelaskan larangan dari perspektif kesehatan sampai perspektif agama. Biar kokoh.

Itulah kapitalisme, tidak memikirkan kelangsungan hidup umat manusia, yang penting dalam dirinya mampu meraup untung sebesar-besarnya. Pemahaman masyarakatnya juga yang sudah terkontaminasi materialisme. Semua keberkahan diukur dari materi. Merupakan kekeliruan besar dalam menjalani kehidupan ini.

Setelah melihat fenomena ini teman-teman   semakin heran dan penuh tanya kenapa saya bisa berhenti merokok? Dan apa sebabnya?

Wajar mereka heran, karena saya merupakan mantan perokok aktif. Beberapa jenis rokok dari yang murahan sampai yang mahal sudah pernah saya coba. Demi memuaskan diri dan boleh jadi sudah tahap ketergantungan. Kadang bisa habis berbungkus bungkus rokok dalam sehari. Dan bila tidak ada uang untuk membeli rokok, rokok orang tualah menjadi sasara dihisap. Luar biasa. Bukan maen.

Setelah paham, saya men coba berhenti. Berhentinya pun berangsur angsur. Gagal, trus coba lagi. Alhamdulillah bisa. Berhenti total. Yang pentinh sedari awal sudah niay pengen berhenti total.

Pertama menilai dari sisi Agama dulu, ya jelas dari cara pandang Islam ya.

Di Indonesia, hukum merokok itu, ada ulama yg mengharamkan, dan ada yg memakruhkan. Kalo saya, ambil yg mengharamkan. Haram bagi pribadi saya ya, krn saya mencoba hati-hati dlm hal ini. Kalo sudah menganggap haram, sudah yakin gitu… jelas, apapun kondisinya tak akan di sentuh. Sama halnya terhadap minum miras. Jelas haramnya. Tapi menganggap haram itu buat pribadi saja. Saya masih menghormati org yg memegang pendapat memakruhkan merokok. Jadi, untuk bakal balik lagi merokok tidak akan mungkin. Karena sudah meyakini itu haram.

Semoga Alloh jaga itu.

Lalu, dari segi kesehatan. Jelas sekali tidakk ada efek baiknya merokok itu. Selain bikin udara sekitar kotor, mampu membuat paru paru rusak,  dan bikin kantong bocor juga. Tapi, rata-rata bila org berhenti merokok karena faktor kesehatan ada kemungkin balik lagi jadi perokok. Setelah berbaur pada lingkungannya yg rata-rata merokok.

Bener-benar berhenti bila sudah di kasih sakit. Itu pada umumnya. Tapi ada yg berhasil juga sih…

Setelah berhenti total dari merokok, dana yg tadinya untuk beli rokok saya alokasikan untuk rutin membeli madu. Sampe sekarang berkeluarga, anak istri  mengkonsumsi madu. Bukan konsumsi asep. Insyaalloh berkah.

Kemudian, masih pertimbangan kesehatan juga. Semua orang tau merokok itu gak sehat. Yang merokok aktif juga ngerti.  Nah…dengan begini saya bisa mempersiapkan masa tua saya. Dengan harapan, keluarga di sekitar  tidak  direpokan akibat saya yg sakit-sakitan. Saat s udah tua, bengek juga, bakal nyusahin keluarga lainya. Tapi lain soal, kalo udah takdir. Ini perkara lain ya. Berharap terus sehat sampai tua…seperti Rasulullah yg kesehatanya terjaga. Walaupun tak sama seperti Rasulullah, minimal menghindari potensi2 penyakit yg diakibatkan oleh merokok itu.

Semoga temen-teman yg berniat untuk berhenti merokok diberikan kemudahan.

Semoga kita semua senantiasa dilimpahkan kesehatan jasmani dan rohani. Aamiin.

 

Angga CDR (mantan perokok berat)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *