Selalu Bersyukur Bikin Hidup Lebih Indah

Matahari terus memancarkan panasnya, semakin hari semakin panas. Hari-hari ini terasa begitu berat, entah setan apa yang sedang hinggap di belakangku ini, seolah aku bukanlah manusia yang tak mampu bersyukur, menggerutu dan banyak mengeluh, begitu banyak beban dipundak.

Mulai aku mencoba untuk rileks, memasak air dan membuat kopi. Kurebahkan badan yang peluh dengan keringat ini di kasur sofa produksi dalam kota. Seruput demi seruput kunikmati kopi pabrikan, padahal kutau disitu banyak zat kimia yanh merusak. Ah sudahlah, kumulai memandang langit-langit rumah, terbayang anak kecil kumel busikan asik bermain di pinggir kali irigasi dengan teman sebayanya… ditemai sampah dan sesekali sikuning mengambang menyapa ..

Saat usia jalan 9 tahun ia sudah mulai merasakan kerasnya pinggiran kota Jakarta. Tanpa sanak keluarga disekitarnya, tanpa bisa mengadu bila dirundung kesedihan, tanpa harus malu-malu apalagi gengsi meminta pertolongan dari teman bapaknya. Bapaknya hanyalah seorang penjahit, namun dengan jerih payah menjahit, Alhamdulillah anak usia 9 tahun ini masih mampu bertahan untuk makan dan mulai melanjutkan sekolah dasar yang sempat telat 1 tahun.

Ibunya telah pergi bersama adiknya berusia 4 tahun, pergi meninggalkannya, entah ibunya pergi kemana, dinamika kehidupan rumah tangga yang harus mulai merasakan perpisahan. Hancurnya rumah tangga. Hilang sudah kasih sayang dari ibunya, dan dididik dengan tangan ayahnya. Mulailah babak baru, hidup nomaden, berpindah -pindah dari satu kontrakan kumuh ke kontrakan yang lebih kumuh lagi, demi sewa rumah yang murah sehingga masih bisa membiayai SPP anak itu.

Mulai tinggal didalam kios Taylor milik bos bapaknya, namun tidak ada wc dan tempat tidur yang layak, lembab dan gelap. Bila ada uang, buang air dan mandi dipasar komplek perumahan, tidak jauh dari kios Taylor tempat bapaknya bekerja. Bila tidak ada uang, terpaksa BAB dalam saluran air pembuangan diam-diam. Haha… Namanya anak kecil serba kepengen melihat temanya makan enak dan jalan-jalan. Saat tidak kesampain makan enak, digambarlah makanan itu di tembok kios Taylor sambil menghayal memakannya.

Mulai ada secercah harapan, hampir putua asa karena sudah tidak ada biaya untuk sekolah, ada yang mulai membantu biaya sekolah SD sampai lulus, dan mulai ada yang membantu biaya sekolah sampai lulus SMP, Alhamdulillah, sampai STM masuk panti asuhan, mulai hidup mandiri berjualan nuget keliling komplek dengan sepeda, dan menjaga depot air isi ulang. Tak perlu malu lagi, bila dipergoki teman-teman sekolahnya. Sampai akhirnya lulus STM dan mulai bekerja, dan akhirnya bisa mulai mengkredit motor matic, senang bukan kepalang, seumur umur bisa memiliki motor. Dan mulai aktivitas kembali kerumah bersama sang bapak. Tetap hidup mengontrak di kontrakan petakan pinggir kali.

Kuseruput lagi kopi ini yang mulai agak dingin. Kini aku bisa berkeliling jalan-jalan kemana saja, bisa membantu biaya full kontrakan orang tua, dimudahkan menikah, dan kini sudah dikaruniai sepasan anak perempuan dan laki-laki. Kekayaan materi sebagai penunjang kehidupan semakin bertambah. Nikmat Tuhan manalagi yang engkau dustakan, sementara kemudahan-kemudahan hidup telah diperolah. Bila memandang keatas tidak akan pernah habisnya. Dunia terus menipu dan memperdaya. Di saat melihat diri yang dulu begitu serba kekurangan, apakah masih kurang dengan kondisi sekarang ?

Bersyukurlah, masih Allah berikan keberkahan dalam nikmat bersyukur. Tanda syukur sebaik- baiknya bukanlah sekadar ucapan, tapi mampu lebih meningkatkan lagi aktivitas ibadah kita. Buat apa kaya harta berlimpah, tapi iman kering dan gersang, pasti akan tetap sengsara. Bila hati dipenuhi iman, sekecil apapun rejeki akan terasa nikmat.

Bagaikan sahabat mulia Abu Hurairah ra. dalam menuntut ilmu kepada Nabi SAW, ia tidak mengharapkan kekayaan, tapi ilmu, cukuplah bila hari ini sudah makan, tidak neko-neko lagi dalam mengejar materi, akhirnya Islam mengangkat derajatnya, memuliakannya, dengan mampu meriwayatkan ribuan hadits, kaya akan ilmu sehingga bermanfaat bagi umat-umat setelahnya. Karena sebaik-baik manusia adalah yang banyak manfaatnya untuk orang lain. Buat apa kaya raya harta berlimpa, tapi bodoh dlm perkara akhirat dan ditambah gak ada manfaatnya buat umat yang lain, kekayaanya hanya dinikmati sendiri. Jangan sampai kita seperti itu. Jadilah umat yang cerdas, mampu memenej kekayaan kita untuk diri dan kebaikan umat, untuk perjuangan tegaknya kejayaan Islam dikemudian hari. Karena semua apa-apa yang kita miliki tidak bisa lepas dari perhitungan Allah kelak di yaumul Hisab.

Angga CDR

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *