Ukhuwah : Solidaritas tanpa Batas

Dalam Islam solidaritas tak hanya terkait perihal duniawi saja, namun solidaritas dengan landasan keimanan adalah menjalin, membina, menjaga, termasuk metode dalam mendidik jiwa, dan inilah yang disebut dengan ukhuwah Islamiyah, persaudaraan karena landasan keimanan kepada Allah Azza wa Jalla.

Sebagaimana firman Allah Azza wa Jalla dalam surat Al-Hasyr 9 :

Dua orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshar) sebelum (kedatangan) mereka (muhajirin),mereka (anshar) mencintai orang yang berhijrah kepada mereka (muhajirin)“.

Urgensi persaudaran seiman pada hakikatnya dikarenakan iman kita yang naik turun, serta jiwa yang sangat lemah ketika kita menjalani kehidupan seorang sendiri, namun akan menjadi kuat jika kita bersama saudara-saudara seiman.

Seorang mukmin adalah cermin bagi mukmin lainnya jika ia melihat didalamnya ada kesalahan maka ia langsung mengingatkannya, dibutuhkan keikhlasan untuk menjalankan hal ini, ikhlas bagi yang diingatkan maupun keikhlasan orang yang mengingatkan.

Persaudaraan sesama muslim adalah ikatan yang paling kuat, ikatan persaudaraan yang tak ada henti untuk terus saling tolong menolong, saling membantu baik dalah kehidupan fisik maupun dalam pendidikan jiwa, dalam rangka menjaga dan meningkatkan keimanan serta menambah tensi ibadah, di sinilah utamanya kita saling bersaudara karena iman.

Imam Hasan Al-Bashri Rahimahullah berkata :

Saudaramu, yang setiap menemuimu ia mengingatkanmu akan posisimu dihadapan Allah Azza wa Jala adalah lebih baik daripada saudara yang setiap menemuimu ia meletakkan di telapak tanganmu uang dinar“.

Para salafus shalih dahulu sangat menjaga persaudaraan ini, jangan sampai persaudaraannya melemah atau menurun, penjagaan persaudaraan ini dengan rasa cinta yang tidak bisa dihilangkan.

Sahabat utama Ibnu Mas’ud radhiallahuanhu jika bertemu dengan saudara seimannya selalu mengucapkan “Kalian menghilangkan kesedihanku”, mereka juga saling membantu dalam perkara dunia sebuah persaudaraan yang sangat seimbang.

Ibnu Umar radhiallahu’anhu pun berkata :

Kami melihat tidak ada seorang yang lebih berhak dengan dinar dan dirhamnya dari pada saudara muslimnya“. Demikianlah beberapa contoh persaudaraan yang dipraktekan oleh para salafus shalih dahulu yang wajib kita menirunya. Ia adalah persaudaraan dalam saling menolong pada ketetapan dijalan Allah Azza wa Jalla dan pada jalan yang bisa mengantarkan ke syurganya kelak.

Dan barang siapa yang tidak memahami dengan pemahaman yang benar tentang konsep  persaudaraan ini dan tidak mengaplikasikannya di tatanan realitas maka mereka tidak mengetahui hakikat persaudaraan,tujuan dan aplikasinya.

Seperti yang Rasulullah shalallahu alaihi wasallam sabdakan dalam Hadits Riwayat Bukhari dan Muslim, yang diriwayatkan dari Abu Ayyub al-Anshari :

أَنَّ رَجُلًا قَالَ : يا رَسُولَ اللَّهِ أَخْبِرْنِي بِمَا يُدْخِلُنِي الْجَنَّةَ وَيُبَاعِدُنِي مِنَ النَّارِ فَقَالَ النَّبِيُّ : لَقَدْ وُفِّقَ أَوْ قَالَ لَقَدْ هُدِيَ كَيْفَ قُلْتَ ؟ فَأَعَادَ الرَّجُلُ فَقَالَ النَّبِيُّ : تَعْبُدُ اللَّهَ لَا تُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا وَتُقِيمُ الصَّلَاةَ وَتُؤْتِي الزَّكَاةَ وَتَصِلُ ذَا رَحِمِكَ فَلَمَّا أَدْبَرَ قَالَ النَّبِيُّ : إِنْ تَمَسَّكَ بِمَا أَمَرْتُ بِهِ دَخَلَ الْجَنَّةَ

Bahwasanya ada seseorang berkata kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Wahai Rasulullah, beritahukan kepadaku tentang sesuatu yang bisa memasukkan aku ke dalam surga dan menjauhkanku dari neraka,” maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sungguh dia telah diberi taufik,” atau “Sungguh telah diberi hidayah, apa tadi yang engkau katakan?” Lalu orang itupun mengulangi perkataannya. Setelah itu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Engkau beribadah kepada Allah dan tidak menyekutukannya dengan sesuatu pun, menegakkan shalat, membayar zakat, dan engkau menyambung silaturahim”. Setelah orang itu pergi, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Jika dia melaksanakan apa yang aku perintahkan tadi, pastilah dia masuk surga”.

Banyak sekali kebaikan-kebaikan dari Allah Azza wa Jalla yang akan kita dapatkan dari menyambung tali silaturahim, dan juga jelas bahwasanya silaturahim banyak terdapat manfaat-manfaat jika kita senantiasa menjaganya dengan baik, diantaranya adalah diberikannya seseorang akan kelapangan Rizqi dan dipanjangkan umurnya.

Sesuai dengan apa yang tertuang dalam Hadits Mutafaqun Alaihi, Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda :

مَنْ سَرَّهُ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ أَوْ يُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ

Barang siapa yang ingin dilapangkan rizkinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung tali silaturahim”.

Namun, ada Peringatan juga tentang bahayanya memutuskan tali silaturahim karena Allah akan memutuskan hubunganNya dari orang-orang yang tidak mau menjaga ataupun menyambung hubungan silaturahim dalam muamalah sesama manusia, terlebih dengan kerabat-kerabatnya seperti yang Rasulullah shalallahu alaihi wasallam sabdakan :

الرَّحِمُ مُعَلَّقَةٌ بِالْعَرْشِ تَقُولُ مَنْ وَصَلَنِي وَصَلَهُ اللَّهُ وَمَنْ قَطَعَنِي قَطَعَهُ اللَّهُ

Ar-rahim itu tergantung di Arsy. Ia berkata: “Barang siapa yang menyambungku, maka Allah akan menyambungnya. Dan barang siapa yang memutusku, maka Allah akan memutus hubungan dengannya”.

Oleh karena itu, marilah kita semua tetap saling menjaga dan berusaha menyambung tali silaturahim agar mendapatkan janji-janji Allah Azza wa Jalla sekaligus mencapai keRidhaanNya, dan sekuat mungkin untuk senantiasa menjaga diri kita agar terhindar dari perkara bathil atas putusnya tali silaturahim yang telah terjalin oleh kita terhadap sesama, bahkan keluarga atau karib kita sehingga kita semua terlindung dari putusnya hubungan kita kepada Allah Azza wa Jalla. (Red)

 

Rizky Abu Aisyah / Miki Abu Hizam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *