Islamophobia dan Kebangkitan Islam di Eropa

Sebuah luka belum lama ini terjadi di Afrika Tengah,  baru saja terjadi konflik SARA dimana ummat Muslim yang menjadi minoritas mejadi korban pembataian secara sadis. Padahal berdasarkan sejarah, di wilayah Afrika Tengah awalnya merupakan basis ummat Muslim yang memiliki kontribusi besar dalam perkembangan peradaban di wilayah tersebut, saat Islam mulai masuk ke wilayah Afrika yang dipimpin oleh Sahabat mulia Amr bin Ash ra. Banyak wilayah-wilayah di Afrika yg dijajah kalangan Romawi yg notabene beragama Nasrani dibebaskan oleh Amr bin Ash. Dan ketika  sebagian besar wilayah di Afrika telah dikuasai Islam, mulailah  dibangun peradaban dengan baik dan manusiawi serta penegakan keadilan yg mengharapkan keridhoan ALLOH semata.

Di Indonesia tercinta fenomena Islamophobia dihembuskan mulai dari cara yang lembut melalui jalur-jalur alam bawah sadar hingga cara yang frontal dengan menabrakan opini seolah ajaran Islam bertentangan dengan kaidah Bhineka Tunggal Ika, seolah Islam tak mengenal toleransi dan kerukunan umat beragama, seolah ingin menghilangkan dalam memori negara dari sejarah yang tercatat dalam perjuangan kemerdekaan dan dengan Islam yg taat inilah wibawa suatu negara itu ada, di mana tegaknya perjuangan kemerdekaan di bawah teriakan semangat takbir yang dipekikan oleh para pejuang kemerdekaan, termasuk Bung Tomo saat berjuang di Surabaya ketika itu.

Dari sejarah yang tercatat bahwa semangat perjuangan yang diajarkan Islam yang melekat dalam tubuh para pejuang muslim menjadi bahan bakar pejuangan melawan penjajah, sementara di kala itu pun tumbuh subur para orang-orang munafik yang lebih condong memihak kaum penjajah dan menjadi pengkhianat negeri tercinta Indonesia, mereka para munafik memilih berkhianat ikut melukai saudara setanah air mereka. Namun dengan hembusan Islamophobia kini makna perjuangan dalam Islam yang sesungguhnya dikaburkan seolah menjadi sebuah sebab perpecahan dan bersebrangan dengan Bhineka Tunggal Ika.

 

Sebuah tulisan menarik dari Jaya Suprana di RMOL.Co salah satu tokoh di Indonesia yang memperhatikan terjadinya fenomena kebangkitan Islam di negara-negara Eropa, salah satunya adalah kota London-Inggris. Dari data yang ada tercatat telah berdiri 423 masjid mulai tahun 2001 hingga akhir tahun 2006, di mana sebagian dari masjid-masjid tersebut merupakan hasil transformasi dari bangunan-bangunan Gereja sebagai tempat ibadah umat Kristiani menjadi Masjid tempat ibadah ummat Islam di London.

Berdirinya masjid-masjid baru bukan dengan proses peranpasan dalam peristiwa peperangan namun peruvahan tempat ibadah ini merupakan transformasi dari bangunan gereja tentu sebagai konsekuensi logis terhadap banyaknya warga London yang bersyahadat menjadi orang Islam dan mulai sedikitnya orang-orang yang beribadah ke Gereja karena menurunnya jumlah orang Nasrani yang rajin beribadah ke Gereja, hal ini tercermin pada suatu ketika Gereja San Giorgio yang berkapasitas tampung 1.230 jemaat namun hanya hadir 12 orang pada upacara misa.

Awalnya London didominasi oleh pemeluk agama Kristen, namun pada tahun 2016 pemeluk Islam bertambah dua kali lipat, sehingga tidak ada lagi dominasi sebuah agama di London, dan menariknya heterogenitas beragama di London berlangsung dengan sangat romantis, ada Masjid yang berdiri berdampingan dengan Gereja, dan hal ini tidak terjadi bentrokan bahkan bisa berjalan dalam sebuah kedamaian, tak ada gesekan apalagi konflik antar agama, sebuah kedewasaan dari penduduk sebuah negara maju dalam menjalankan keyakinan yang berbeda dalam beragama.

Jaya Suprana menutup tulisannya dengan sebuah analisa, bahwa Islamophobia yang dihembuskan di negara-negara maju, di negara-negara Islam menjadi minoritas dan termasuk di Indonesia adalah sebuah ketakutan yang luar biasa atas fenomena perkembangan Islam yang melanda Inggris, dan mereka khawatir adanya kemungkinan hal ini akan terjadi di negara-negara lain, sehingga mereka membuat sebuah pengkaburan opini atas indahnya Islam, pengkaburan atas keagungan nilai-nilai dalam Agama Islam. 

Sebuah pengkaburan yang jauh dari fakta sejarah maupun fakta kekinian, karena jika Islam seperti yang mereka hembuskan  bahwa Islam benar anti Bhineka Tunggal Ika, maka fenomena Londonista yang merupakan sejarah berkembangnya Islam di Inggris tak akan terjadi. (Red/Ang)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *