Pendosa yang Menjadi Pembela Agama

Dialah Umeir bin Wahab salah satu peminpin Quraisy yang menghunus pedangnya di perang Badar untuk menumpas Islam, ia adalah seorang yang tajam penglihatannya dan teliti perhitungannya, sehingga ia diutus untuk mengintai pasukan Muslim menjelang perang Badar.

Ia adalah Umeir bin Wahab dengan julukan jagoan Quraisy yang di perang Badar mendapat pukulan berat karena kekalahan melawan kaum Muslimin. Suatu ketika Umier berbincang dengan pamannya Shafwan bin Umaiyah untuk merencanakan pembunuhan untuk membalaskan dendam mereka kepada diri Rasululloh, hingga ia berangkat ke Madinah dengan menimang-nimang pedangnya yang sudah diasah dan diberi racun, hingga ia berhasil bertemu Rasululloh namun ia berbohong mengenai niatannya untuk membunuh Rasul, hingga Rasul menceritakan kembali semua rencana dan pembicaraan antara Umier dan Shafwan dengan detail, dan Umier terkaget karena ketika itu Umeir meyakini tak ada orang yang melihat pembicaraan antara ia dan Shafwan, dan seketika itu pula Umeir berucap “Asyhadu Alla Ilaha Illalloh Wa Asyhadu Muhammadar Rasululloh…“.

Sekejap saja seorang yang dahulu menghunus pedang untuk memerangi Islam kini telah menjadi seorang Muslim, dan seketika itu pula para sahabat memeluknya dan mencintainya setelah sebelumnya menanggap Umeir sebagai musuh yang membahayakan. Kondisi ini membuat Umeir merasa takjub, seperti inikah kelapangan dada dan sifat pemaaf Agama Islam serta kebesaran Rasul-Nya, bagaimana Islam begitu pemaaf dan sekejap saja sedia menghapuskan segala kesalahan yang lalu, dan begitu pula orang-orang Islam langsung melupakan segala dosa dan kejahatan serta permusuhan di masa lampau, dan bersedia membukakan dasar hati mereka untuknya dengan merangkul dan memeluknya keharibaan mereka.

Sekejap saja pedang yang tergenggam kuat untuk sebuah niat jahat dan kekejaman keji semua sudah dilupakan dan tak diingat lagi kecuali Islamnya Umeir dan kini telah menjadi salah seorang dari kaum Muslimin, sahabat Rasul yang memiliki hal seperti hak-hak mereka.

Suatu hari Umeir kembali ke kampung halamannya, Umeir masuk ke kota Mekah kini sebagai seorang Muslim, sedangkan ketika perginya ia adalah seorang musyrik yang hendak membunuh Rasululloh. Kini ia telah bertekad bulat hendak menyerahkan hidupnya untuk berbakti kepada Islam yang sekian lama diperanginya, ia kini memiliki kemampuan dan kesempatan untuk membayar itu semua, berpacu dengan waktu untuk berda’wah menyebarkan Islam baik siang maupun malam secara terang-terangan dan terbuka.

Dari lisannya yang kini keluar kalimat dan kata-kata yang haq dalam waktu beberapa minggu saja, orang-orang yang mendapatkan petunjuk masuk Islam karena usahanya melebihi angan-angan dan perkiraan Umeir sendiri, dan Umeir membawa mereka dalam satu barisan yang panjang dan terang-terangan ke Madinah melalu padang pasir yang sama ketika ia pergi dari Mekah ke Madinah di masa jahiliah untuk membunuh Rasululloh, kini ia melewatinya kembali dengan wajah yang bersinar sambil membawa Al-Qurán di atas punggung untanya, bersama iring-iringan panjang yang merupakan rombongan orang-orang yang beriman kepada ALLOH dan Rasul-Nya disertai suara tahlil dan takbir yang menggema memenuhi angkasa raya.

Sebuah kisah yang memberikan inspirasi bahwa seseorang yang memiliki masa lalu kelam, dipenuhi dosa dan kesalahan, dengan hidayah yang ALLOH berikan dapat merubah seketika menjadi seorang yang membela Islam dan mengajak orang untuk beriman kepada ALLOH. Jangan pernah takut dan terjebak pada masa lalu, karena ALLOH maha pengampun dan maha penerima taubat, ingatlah ayat,

قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ (53) وَأَنِيبُوا إِلَى رَبِّكُمْ وَأَسْلِمُوا لَهُ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَكُمُ الْعَذَابُ ثُمَّ لَا تُنْصَرُونَ (54)

Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan kembalilah kamu kepada Tuhanmu, dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datang azab kepadamu kemudian kamu tidak dapat ditolong (lagi).” (QS. Az Zumar: 53-54).

Selama hayat masih dikandung badan, selama nafas masih berhembus, selama jantung masih berdetak kencang, ketika itulah kesempatan taubat terbuka lebar, bersungguhlah memohon ampun atas dosa-dosa di masa lalu, bersungguhlah menyesali dosa-dosa tersebut, dan bersungguhlah untuk tak mengulanginya, dan berodalah untuk dapat Istiqomah di jalan kebenaran dengan bimbingan ajaran Islam yang mulia. (Red)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *